BY: Dwitasari
Aku terbangun seperti biasa. Menatap handphone beberapa lama
lalu melirik diam-diam ke arah jam. Menatap langit-langit kamar yang sama.
Letak lemari, meja belajar, dan rak buku juga masih sama. Tak ada yang berbeda
di sini. Aku masih bernapas, jantungku masih berdetak, dan denyut nadiku masih
bekerja dengan normal. Memang, semua terlihat mengalir dan bergerak seperti
biasa, tapi apakah yang terlihat oleh mata benar-benar sama dengan yang
dirasakan oleh hati?
Mataku berkunang-kunang, pagi tadi memang sangat dingin. Aku
menarik selimut dan membiarkan wajahku tenggelam di sana. Dan, tetap saja tak
kutemukan kehangatan, tetap mengigil— aku sendirian. Dengan kenangan yang masih
menempel dalam sudut-sudut luas otak, seakan membekukan kinerja hati. Aku
berharap semua hanya mimpi, dan ada seseorang yang secara sukarela
membangunkanku atau menampar wajahku dengan sangat keras. Sungguh, aku ingin
tersadar dari bayang-bayang yang terlalu sering kukejar. Sekali lagi, aku masih
sendiri, bermain dengan masa lalu yang sebenarnya tak pernah ingin kuingat
lagi.
Sudah tanggal 1. Seberapa pentingkah tanggal satu? Ya... memang
tidak penting bagi siapapun yang tak mengalami hal spesial di tanggal satu.
Kita masuk ke bulan September. Bulan yang baru. Harapan baru. Mimpi yang baru.
Cita-cita baru. Juga kadang, tak ada yang baru. Aku hanya ingin kautahu, tak
semua yang baru menjamin kebahagiaan. Dan, tak semua yang disebut masa lalu
akan menghasilkan air mata. Aku begitu yakin pada hal itu, sampai pada akhirnya
aku tahu rasanya perpisahan. Aku tahu rasanya melepaskan diri dari segala hal
yang sebenarnya tak pernah ingin kutinggalkan. Aku semakin tahu, masa lalu
setidaknya selalu jadi sebab. Kamu, yang dulu kumiliki tak lagi bisa kugenggam
dengan jemari.
Kita berpisah, tanpa alasan yang jelas, tanpa diskusi dan
interupsi. Iya, berpisah, begitu saja. Seakan-akan semua hanyalah masalah
sepele, bisa begitu mudah disentil oleh satu hentakkan kecil. Sangat mudah,
sampai aku tak benar-benar mengerti, apakah kita memang telah benar-benar
berpisah? Atau dulu, sebenarnya kita tak punya keterikatan apa-apa. Hanya saja
aku dan kamu senang mendengungkan rasa yang sama, cinta yang dulu kita bela
begitu manis berbisik. Lirih... dingin... memesona... Segala yang semu menggoda
aku dan kamu, kemudian menyatulah kita, dalam rasa (yang katanya) cinta.
Aku mulai berani melewati banyak hal bersamamu. Kita habiskan
waktu, dengan langkah yang sama, dengan denyut yang tak berbeda, begitu
seirama... tanpa cela, tanpa cacat. Sempurna. Dan, aku bahagia. Bahagia?
Benarkah aku dan kamu pernah merasa bahagia? Jika iya, mengapa kita memilih
perpisahan sebagai jalan? Jika bahagia adalah jawaban, mengapa aku dan kamu
masih sering bertanya-tanya? Pada Tuhan, pada manusia lainnya, dan pada hati
kita sendiri. Kenapa harus kau ubah mimpi menjadi api? Mengapa kau ubah pelangi
menjadi bui? Mengapa harus kauciptakkan luka, jika selama ini kaumerasa kita
telah sampai di puncak bahagia?
Kegelisahanku meningkat, ketika aku memikirkanmu, ketika aku
memikirkan pola makanmu, juga kesehatanmu. Aku bahkan masih mengkhawatirkanmu,
masih diam-diam mencari tahu kabarmu, dan aku masih merasa sakit jika tahu
sudah ada yang lain, yang mengisi kekosongan hatimu. Seharusnya, aku tak perlu
merasa seperti itu, karena kau masa lalu, karena kita tak terikat apa-apa lagi.
Benar, akulah yang bodoh, yang tak memutuskan diri untuk segera berhenti. Aku
masih berjalan, terus berjalan, dengan penutup mata yang tak ingin kubuka.
Semuanya gelap, tanpamu... kosong.
Ternyata, hari berlalu dengan sangat cepat. Sudah setahun, dan
sudah tak terhitung lagi berapa frasa kata yang terucap untukmu di dalam doa.
Salahku, yang terlalu perasa. Salahku, yang mengartikan segalanya dengan sangat
berani. Kupikir, dengan ikuti aturanku, semua akan semakin sempurna. Lagi dan
lagi, aku salah, dan kamu memilih untuk pergi. Ini juga salahku, karena tak
mengunci langkahmu ketika ingin menjauh.
Setelah perpisahan itu, hari-hari yang kulalui masih sama. Aku
masih mengerjakan rutinitasku. Dan, aku mulai berusaha mencari penggantimu.
Mereka berlalu-lalang, datang dan pergi, ada yang diam berlama-lama, ada yang
hanya ingin singgah. Semua berotasi, berputar, dan berganti. Namun, tak ada
lagi yang sama, kali ini semua berbeda. Tak ada kamu yang dulu, tak ada kita
yang dulu. Ya, kenangan berasal dari masa lalu tapi tetap punya tempat
tersendiri di hati yang sedang bergerak ke masa depan.
Hidupku tak lagi sama, dan aku masih berjuang untuk melupakan
sosokmu yang tak lagi terengkuh oleh pelukkan. Padahal, aku masih jalani hari
yang sama, aku masih menjadi diriku, dan jiwaku masih lekat dengan tubuhku.
Tapi, masih ada yang kurang dan berbeda. Kesunyian ini bernama... tanpamu.
Jika jemari ditakdirkan untuk menghapus air mata, mengapa kali
ini aku menghapus air mataku sendiri? Di manakah jemarimu saat tak bisa
kauhapuskan air mataku?
1 September
2011-1September 2012
Selamat (gagal) satu
tahun.
Jika kau rindukan
kita yang dulu, aku pun juga begitu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar